CARA-CARA BUDIDAYA IKAN LELE YANG BENAR

Ikan
lele merupakan jenis ikan yang banyak digemari masyarakat karena
kelezatannya. Di Indonesia budidaya ikan lele sudah merajalela di
pedesaan. akan mengulas budidaya ikan lele yang benar sebagai berikut.
Pembenihan lele
Budidaya
lele untuk menghasilkan benih samapai berukuran tertentu dengan cara
perkawinan induk jantan dengan induk betina pada kolam khusus pemijahan.
Ada 3 pembenihan dalam berbudidaya ikan lele antara lain sebagai
berikut:
Sistem massal.
Dilakukan dengan menempatkan lele jantan denga lele betina
dalam satu kolam dengan perbandingan tertentu. Pada sistem ini induk
jantan secara leluasa mencari pasangan untuk diajak kawin dalam sarang
pemijahan, cara sistem ini tergantung pada ke-aktifan nduk jantan dalam
memilih pasangan.
Sitem pasangan.
Dilakuakan dengan menempatkan satu induk jantan dan satu betina pada kolam khusus.
Sistem suntik.
Dilakukan dengan merangsang lele untuk memijah atau terjadi ovulasi dengan suntikan kontrak kelenjar Hyphofise.
Pembuatan kolam
Menggunakan
terpal atau deklit memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya
adalah berbiaya murah, praktis, mudah dibuat, dan mudah dipindakahkan
kemanapun kita mau, serta proses memanen pun menjadi sangat mudah.
Sedangkan kelemahannya adalah tidak tahan lama –terpal yang kualitasnya
bagus bisa bertahan lebih dari 3 tahun, jika bocor akan cukup
menyulitkan, dan berpeluang robek.
Untuk yang bermodal kecil dan sedang ingin belajar, pilihan menggunakan terpal saya kira cukup tepat.
Untuk memilahara 1000 ekor lele cukup menggunakan terpal berukuran 4×6 meter. Terpal ukuran ini bisa dibuat menjadi kolam berukuran 2×3 meter. Ukuran 2×3 dengan ketebalan air 80 Cm adalah ukuran ideal untuk 1000 ekor lele. Terpal ditekuk-tekuk sedemikian rupa agar menyerupai kolam beton di atas tanah.
Pojok-pojok atau di sekiling kolam bisa disangga dengan kayu atau bambu. Pengalaman saya, disangga dengan batang pohon kapas atau randu lebih baik. Selain kuat, batang pohon randu ini bisa tumbuh sehingga tidak busuk, awet.
Setelah kolam jadi, siapkan medianya. Oya… sebaiknya sebelum terpal baru digunakan, direndam dulu dalam air atau dicuci dengan bersih agar bahan-bahan kimia yang terkandung dalam terpal bisa terkurangi.
Kunci kesuksesan pemeliharaan ikan apapun, termasuk lele, adalah penyiapan medianya. Semakin bagus medianya maka akan semakin baik pula hasilnya. Media layaknya rumah bagi ikan-ikan ini. Media yang dimaksud di sini adalah air. Lele tidak perlu air mengalir seperti ikan-ikan lainnya sehingga memudahkan bagi kita yang berada di daerah yang persedian airnya sedikit.
Isilah kolam dengan air setinggi 15-20 Cm. Kemudian, taburkanlah pupuk kandang atau kotoran sapi setengah matang pada kolam setebal 5 – 10 cm. Kemudian tebarkan juga batang pisang atau debog dalam bahasa Jawa dan Bali. Batang pisang dipotong-potong dan tebarkan di kolam ini juga. Getah batang pisang setau saya baik untuk membunuh bakteri-bakteri yang merugikan. Taburkan juga daun-daun yang mudah busuk. Bisa juga ditambahkan serabut kelapa dalam jumlah yang tidak terlalu banyak.
Biarkanlah selama 1 sampai 2 minggu. Air akan berwana kecoklatan bahkan sampai warna kehijauan. Warna air hijau menunjukan air sudah siap untuk dijadikan media. Mikroorganisme sudah hidup subur dalam air ini yang dibutuhkan oleh lele.
Jika ingin hasil yang lebih cepat, bisa menggunakan larutan EM (effective microorganism) yang dapat dibeli dengan mudah di toko-toko tani atau bisa juga dengan membuat sendiri. Tapi hati-hati dengan nyamuk yang berkembang biak pada air yang menggenang dalam kolam selama 1 – 2 minggu ini. Lepaskanlah ikan-ikan kecil pada kolam untuk memakan jentik nyamuk. Bisa juga menggunakan lele-lele kecil berjumlah 10 ekor untuk mengontrol jentik nyamuk.
Setelah media siap, tambahkan air sumur pada kolam sampai ketebalan 80 cm. Sebaiknya hindari penggunaan air kran atau PDAM, karena mengandung kaporit yang kurang baik untuk lele dan mikroorganisme yang tumbuh dalam kolam. Jika air tidak tersedia cukup banyak, cukup diisi 40 cm dulu, dan ditambahi sedikit demi sedikit seiring perkembangan lele. Jika medianya baik maka bisa menekan kematian lele sampai di bawah 5%.
Ada dua tipe dalam berbudidaya lele, dengan cara bak dan galian(kubangan). Secara ilmu berbudidaya ada beberapa yang harus dilakukan:
Untuk yang bermodal kecil dan sedang ingin belajar, pilihan menggunakan terpal saya kira cukup tepat.
Untuk memilahara 1000 ekor lele cukup menggunakan terpal berukuran 4×6 meter. Terpal ukuran ini bisa dibuat menjadi kolam berukuran 2×3 meter. Ukuran 2×3 dengan ketebalan air 80 Cm adalah ukuran ideal untuk 1000 ekor lele. Terpal ditekuk-tekuk sedemikian rupa agar menyerupai kolam beton di atas tanah.
Pojok-pojok atau di sekiling kolam bisa disangga dengan kayu atau bambu. Pengalaman saya, disangga dengan batang pohon kapas atau randu lebih baik. Selain kuat, batang pohon randu ini bisa tumbuh sehingga tidak busuk, awet.
Setelah kolam jadi, siapkan medianya. Oya… sebaiknya sebelum terpal baru digunakan, direndam dulu dalam air atau dicuci dengan bersih agar bahan-bahan kimia yang terkandung dalam terpal bisa terkurangi.
Kunci kesuksesan pemeliharaan ikan apapun, termasuk lele, adalah penyiapan medianya. Semakin bagus medianya maka akan semakin baik pula hasilnya. Media layaknya rumah bagi ikan-ikan ini. Media yang dimaksud di sini adalah air. Lele tidak perlu air mengalir seperti ikan-ikan lainnya sehingga memudahkan bagi kita yang berada di daerah yang persedian airnya sedikit.
Isilah kolam dengan air setinggi 15-20 Cm. Kemudian, taburkanlah pupuk kandang atau kotoran sapi setengah matang pada kolam setebal 5 – 10 cm. Kemudian tebarkan juga batang pisang atau debog dalam bahasa Jawa dan Bali. Batang pisang dipotong-potong dan tebarkan di kolam ini juga. Getah batang pisang setau saya baik untuk membunuh bakteri-bakteri yang merugikan. Taburkan juga daun-daun yang mudah busuk. Bisa juga ditambahkan serabut kelapa dalam jumlah yang tidak terlalu banyak.
Biarkanlah selama 1 sampai 2 minggu. Air akan berwana kecoklatan bahkan sampai warna kehijauan. Warna air hijau menunjukan air sudah siap untuk dijadikan media. Mikroorganisme sudah hidup subur dalam air ini yang dibutuhkan oleh lele.
Jika ingin hasil yang lebih cepat, bisa menggunakan larutan EM (effective microorganism) yang dapat dibeli dengan mudah di toko-toko tani atau bisa juga dengan membuat sendiri. Tapi hati-hati dengan nyamuk yang berkembang biak pada air yang menggenang dalam kolam selama 1 – 2 minggu ini. Lepaskanlah ikan-ikan kecil pada kolam untuk memakan jentik nyamuk. Bisa juga menggunakan lele-lele kecil berjumlah 10 ekor untuk mengontrol jentik nyamuk.
Setelah media siap, tambahkan air sumur pada kolam sampai ketebalan 80 cm. Sebaiknya hindari penggunaan air kran atau PDAM, karena mengandung kaporit yang kurang baik untuk lele dan mikroorganisme yang tumbuh dalam kolam. Jika air tidak tersedia cukup banyak, cukup diisi 40 cm dulu, dan ditambahi sedikit demi sedikit seiring perkembangan lele. Jika medianya baik maka bisa menekan kematian lele sampai di bawah 5%.
Ada dua tipe dalam berbudidaya lele, dengan cara bak dan galian(kubangan). Secara ilmu berbudidaya ada beberapa yang harus dilakukan:
- Kolam tandow, mendapatkan masukan air langsung dari sumbernya. Cra ini berfungsi untuk pengendapan lumpur, persediaan air, dan penumbuh plankton.
- Kolam pemeliharaan induk, induk jantan dean betina selama masa pmatangan telur dipelihara pada kolam tersendiri.
- Kolam Pemijahan. Tempat perkawinan induk jantan dan betina. Pada kolam ini harus tersedia sarang pemijahan dari ijuk, batu bata, bambu dan lain-lain sebagai tempat hubungan induk jantan dan betina.
- Kolam Pendederan. Berfungsi untuk membesarkan anakan yang telah menetas dan telah berumur 3-4 hari. Pemindahan dilakukan pada umur tersebut karena anakan mulai memerlukan pakan, yang sebelumnya masih menggunakan cadangan kuning telur induk dalam saluran pencernaannya.
Pemilihan induk untuk lele jantan
- tulang kepala berbentuk pipih
- warna lebih gelap
- gerakannya lebih lincah
- perut ramping tidak terlihat lebih besar daripada punggung
- alat kelaminnya berbentuk runcing.
Pemilihan induk untuk lele betina
- tulang kepala berbentuk cembung
- warna badan lebih cerah
- gerakan lamban
- perut mengembang lebih besar daripada punggung alat kelamin berbentuk bulat.
Persiapan lahan

Proses pengolahan lahan (pada kolam tanah) meliputi:
- Pengeringan. Untuk membersihkan kolam dan mematikan berbagai bibit penyakit.
- Pengapuran. Dilakukan dengan kapur Dolomit atau Zeolit dosis 60 gr/m2 untuk mengembalikan keasaman tanah dan mematikan bibit penyakit yang tidak mati oleh pengeringan.
- Perlakuan TON (Tambak Organik Nusantara). untuk menetralkan berbagai racun dan gas berbahaya hasil pembusukan bahan organik sisa budidaya sebelumnya dengan dosis 5 botol TON/ha atau 25 gr (2 sendok makan)/100m2. Penambahan pupuk kandang juga dapat dilakukan untuk menambah kesuburan lahan.
- Pemasukan Air. Dilakukan secara bertahap, mula-mula setinggi 30 cm dan dibiarkan selama 3-4 hari untuk menumbuhkan plankton sebagai pakan alami lele.
Pada tipe kolam berupa bak, persiapan kolam yang dapat dilakukan adalah :
- Pembersihan bak dari kotoran/sisa pembenihan sebelumnya.
- Penjemuran bak agar kering dan bibit penyakit mati. Pemasukan air fapat langsung penuh dan segera diberi perlakuan TON dengan dosis sama.
Pemijahan
Langkah berikutnya adalah dengan memasukkan Indukan Jantan dan Betina dalam satu kolam yang berukuran 2,3m x 2,3m x0,8m dengan ketinggian air 30-35 cm yang terlebih dahulu diberi kakaban ( rangkaian ijuk yang diapit bambu) dengan ukuran kolam tersebut bisa di pasang rangkaian ijuk 12 buah, dengan ukuran panjang sekitar 1m dan lebar rentangan ijuk 20 cm.
Gambar : Kolam pemijahan yang telah diberi ijuk
Kesokan harinya telur yang menempel pada ijuk yang sudah terbuahi akan terlihat putih kekung-kuningan cerah, itu pertanda proses pembuahan telah berhasil. Itu terlihat dari indukan jantan dan betina berjauhan yang biasanya nampak si induk betina berdiam di sudut kolam.
Setelah itu induk diangkat dan dikembalikan pada kolam penampungan induk. Dengan Indukan berumur 1,5 -2 tahun dan mempunyai berat antara 1,5 – 2 kg akan mampu menghasilkan telur sekitar 15.000 - 20.000 butir
Sesudah proses pengangkatan rentang waktu 20-24 jam telur akan menetas menjadi larva, ijuk segera diangkat karena apabila ijuk tidak diangkat, telur yang tidak sempurna dalam pembuahan akan busuk, dari sini akan timbul jamur yang nantinya akan mencemari air kolam. Biasanya larva terlihat bergerombol di beberapa bagian dalam kolam terutama pada sudut kolam dengan ukuran sangat kecil lebih mirip seperti lumut berwarna kehijauan
Gambar : Larva Ikan lele
Dalam
satu atau dua hari larva lele semakin besar disini tidaklah perlu kita
memberikan pakan dulu, karena cadangan kuning telur yang yang tersimpan
pada tubuh ikan sudah mampu nyuplai makan 1-2 hari. Jangan lupa suplay
oksigen ke kolam harus ada gunakan air pump atau alirkan air bersih ke
kolam dengan debit kecil agar larva tidak bertebaran.Kolam masih dalam
keadaan tertutup ini dimaksudkan untuk menjaga kestabilan suhu air, dan
ada beberapa sumber mengatakan juga untuk beberapa daerah meyakini cara
ini bisa untuk menghambat tumbuhnya lumut jerat. Proses penutupan selama
1 minggu ini karena bibit sudah mampu ber adaptasi dengan suhu
lingkungan yang ada.Setelah tiga hari menetas maka larva di beri makan cacing sutra halus segar, ada beberapa sumber juga mengatakan bisa di cacah dan disaring apabila cacing terlau besar .jangan lupa untuk menyipon (membersihkan kotoran dan sisa makanan yang tidak termakan) agar tdk menimbulkan penyakit, pemberian cacing dapat dilakukan 3 – 4 kali dalam 1 hari, bias juga sesuai nafsu makan dari larva dan ditambah porsinya untuk setiap karena larva semakin besar.
Gambar : Cacing sutra segar
Pemberian
Cacing akan lebih baik dilakukan selama 20 hari setelah itu bisa
menggunakan pakan pellet tabur (D0) daerah sini menamai ceki (Pellet
bubuk)
Gambar : Bibit ikan lele umur 14 hari
Setelah
bibit berukuran 3-4 cm dengan usia sekitar 20 hari dilakukan penyotiran
/ penyamplingan ukuran bibit yang nantinya akan di masukkan ke dalam
kolam pendederan. (Tampungan) dengan ketinggian air 30 cm sampai
mencapai ukuran 4-6 cm & 5-7 cm dan bibit sudah makan pellet f999,
Hingga lele siap untuk di jual kepada petanni pendederan / petani
pembesaran sampai ukuran konsumsiKetersedian air yang bersih dan pasokan oksigen yang cukup disertai pemberiaan pakan yang teratur akan dapat meningkatkan produktivitas dan kesehatan dari benih. Ada beberap sumber mengatakan kualitas air adalah sangat penting dalam usaha budidaya ikan air tawar dalam hal ini ukuran kualitas arkolam dapat dinilai dari :
Ukuran kualitas air dapat dinilai secara fisik :
- air harus bersih
- berwarna hijau cerah
- kecerahan/transparansi sedang (30 - 40 cm).
Ukuran kualitas air secara kimia :
- bebas senyawa beracun seperti amoniak
- mempunyai suhu optimal (22 - 26 0C).
Penggantian air secara berkala dengan takaran 30 % air dalam kolam dengan air bersih, dimungkinkan akan terpeliharanya kwalitas air secara menyeluruh dan yang artinya pertumbuhan dari ikan yang kita budidayakan akan berkembang jauh lebih baik.
Pemindahan
Cara pemindahan :
- Kurangi air di sarang pemijahan sampai tinggi air 10-20 cm.
- Siapkan tempat penampungan dengan baskom atau ember yang diisi dengan air di sarang.
- Samakan suhu pada kedua kolam
- Pindahkan benih dari sarang ke wadah penampungan dengan cawan atau piring.
- Pindahkan benih dari penampungan ke kolam pendederan dengan hati-hati pada malam hari, karena masih rentan terhadap tingginya suhu air.
Pendederan
Taburkan
bibit lele yang berukuran 2 – 5, tapi jangan keburu ditaburkan.
Biasanya bibit berada dalam kantong plastik yang berisi air. Taruh
kantong plastik itu di atas air kolam, agar ada penyesuain suhu dan lele
tidak stres. Penebaran benih dilakukan pagi atau sore hari, dimana suhu
permukaan kolam tidak terlalu berbeda jauh dengan suhu di dasar kolam.
Adalah pembesaran hingga berukuran siap jual, yaitu 5 – 7 cm, 7 – 9 cm
dan 9 – 12 cm dengan harga berbeda. Kolam pendederan permukaannya diberi
pelindung berupa enceng gondok atau penutup dari plastik untuk
menghindari naiknya suhu air yang menyebabkan lele mudah stress.
Pemberian pakan mulai dilakukan sejak anakan lele dipindahkan ke kolam
pendederan ini.
Pakan
Pakan anakan lele berupa:
- pakan alami berupa plankton, jentik-jentik, kutu air, dan cacing sutra(3-4 hari)
- pakan buatan untuk umur diatas 3-4 hari.
- Untu menanam nutrisi pakan, setiap pemberian pakan buatan dicampur dengan POC NASA dengan dosis 1-2cc/kg pakan(dicampur air secukupnya.
Pakan
lele banyak tersedia di toko-toko. Untuk pakan buatan sendiri, saya
belum berani menuliskannya di sini karena belum berhasil 100%. Sehingga
mau tidak mau kita ketergantungan dengan pakan pabrikan. wuih… sangat
tidak menyenangkan.
Pemberian
pakan dilakukan pagi hari dan petang hari, dimana biasanya lele sedang
memiliki nafsu makan yang tinggi. Jumlah pakan sesuaikan dengan barat
badan, yaitu 5% dari total berat badan seluruh populasi kolam. Kalo saya
biasanya tidak ambil pusing dengan 5%, tapi pemberian pakan dilihat
dari perilaku lele. Berikan sedikit demi sedikit pakan, lihat perilaku
lele. Jika buas memangsa pakan, maka berikan sedikit lagi, sampai cara
memakannya tidak terlalu buas. Jangan terlalu banyak memberikan pakan
karena bisa membuat lele menjadi kembung dan mati.
Idealnya
pada siang hari juga diberi pakan, namun pakan yang banyak berarti
ongkos produksi juga besar. Maka sebaiknya disiasati dengan memberikan
pakan tambahan pada siang hari. Misalnya memberikan ayam mati yang
digantung di permukaan kolam agar sisa-sisa ayam yang tidak termakan
bisa kita buang dan tidak menjadi sampah di kolam. Bisa juga memberikan
cacing dan katul, atau memberikan keong mas, atau makanan tambahan
lainnya yang tidak perlu membeli.
Lele
akan siap panen dalam umur 2 – 3 bulan, dengan ukuran 8 – 12 ekor per
kilogram. Tapi tanyakan pembeli atau pedagangnya, mereka meminta yang
ukuran berapa. Lele yang besar cenderung tidak laku di pasaran, namun
laku di pemancingan. Untuk Contoh penanggulangan penyakit lele dengan
bahan alami yang sudah dilakukan oleh beberapa pembudidaya ikan lele .






.jpg)













